November 20, 2009

Perasaan Ingin Bersuara Itu

 

Perasaan ingin bersuara itu

Ngamuk

garang sekali

Dia bertanya

kepada siapa dia berhak memaki

 

Sementara bibir

masih sibuk berciuman

dengan kebisuan

Dan pita suara

mau pensiun, Katanya.

 

 

Perasaan ingin bersuara itu

Meledak

tanpa menunjukkan sedikutpun daya ledak

Pada wajah

dengan roman lurus, kaku, datar, hambar, "biar!"

 

 

Sementara otak

Sedang mendaki sel-nya yang konon terbentang

Hingga langit ke tujuh

Seperti jijik untuk kembali

ke bumi dimana dia

mendapat makan

 

 

Perasaan ingin bersuara itu

Mengaum

Singa sekali

Dia minta

wajah itu untuk kembali

jadi anak periang seperti trend masa kini

 

 Sementara si wajah seperti

seperti telah bersumpah untuk tidak

mengguman

barang

satu-dua nada saja

Entah bersumpah pada siapa

 

 Pada akhirnya

perasaan ingin bersuara itu

menyemprotkan diri

lewat luka di ujung jari

Melukiskan darah

pada wajah

yang diam itu

 

 

Orang-orang pada simpati

pada kasihan

dan merawat 

si wajah

padahal yang sakit adalah

Perasaan ingin bersuara itu…

 


(Hari ini, tadi pagi)

 emoticon

October 29, 2009

SINGKAT SAJA

Mengetuk tembok nada dengan sangat awur. seperti ingin menghancurkannya tapi hanya bisa menghancurkan diri sendiri seperti ingin menyanyi tapi pada akhirnya hanya berteriak muak seperti ingin berpuisi tapi pada akhirnya hanya mengeluarkan tahi.

klise-klise berdebu

semuanya indah jika berwujud kau!

October 17, 2009

AKHIR

AKHIR.

Lima huruf saja. Tak lebih. Tapi sangat mengerikan. Dia adalah induk dari kata-kata mengerikan lain. Mati, pisah, tangis. akhir, sangat tajam sekali dia menusuk-nusuk. bahkan, saat sebuah kisah yang menyedihkan berakhir, kau akan mengeluarkan air mata jua. akhir, bahkan jika penantian yang memuakkan berakhir, kau akan menangis jua. akhir. akhir! saya punya puisi tentang akhir…

"SIBAYAK"

Sibayak!

Dia tampak tidak biasa hari ini

Dia tampak sangat menggairahkan, 

membuka sumbatan syaraf mana saja

yang menghalangi jalannya hormon

hormon kasmaran dan cinta

 

Sibayak!

Dia terlihat sangat menggairahkan

Lebih dari artis porno Jepang yang kedatangannya kalian ributkan

hanya ada selapis kabut tipis

dibagian dada

selebih itu, sibanyak hari ini

tidak memakai apa-apa

 

"Lihat!

aku sudah telanjang se-telanjang-telanjangnya!

aku siap digarap!

tunggu apa?

bukankah kau yang selalu

berkata rindu untuk bercumbu?"

 

aku diam

di sampingku ayah menempelkan sesuatu yang disebut "handphone" ke kuping

"Ya…ya. sedang menuju bandara."

dan abangku diam pula memandangi

koperku di bangku belakang.

 

sibayak yang biasanya anggun

berubah jalang pagi ini

biasanya di antara kabut malu-malu dia menunggu

menunggu aku untuk mencumbu

 

kini dia berteriak-teriak selayak

pelacur yang mengejar setoran

dan matahari ikut campur

mengupas kain kabut

dan menelanjangi Sibayak.

 

hormon menerobos sana-sini

hormon kasmaran dan cinta.

 

"Ayo!

Mari bercumbu!

Kini aku telah tunjuk segala lekak-lekuk

yang aku punya!

masih mau pergi jua?

ha?"

dia membentak.

makin mirip pelacur yang haus uang

 

aku

harus pergi, Sibayak!

percumbuan kemarin, adalah yang terakhir untuk beberapa bulan ke depan

sudahlah, pakai lagi bajumu!

 

hujan dan kabut

perlahan-lahan memakaikan baju pada Sibayak

kali ini, baju buatan mereka menutupi seluruh tubuh

dan sibayak yang kucintai

tak tampak lagi

dia marah, dia merajuk

tak apalah

dia akan ku pujuk bila kembali lagi

 

asal dia tau,

aku pun menangis untuk mengeluarkan

hormon-hormon tak tertahankan!

 

 

Bandara Polonia, Medan

Rabu, 14 oktober 2009

11 WIB

 

(sibayak adalah sebuah gunung di Tanah Karo, Sumatera Utara. Salah satu tempat kesukaan saya)

October 4, 2009

Kapan Pulang?

"udah masuk kuliah nih, lo dimana?" satu sms masuk

"woy, sepi banget nih kelas gak ada lo." kata sms yang lain

"lo pindah kuliah kemana sih?" satu lagi tidak mau kalah.

"kapan pulang ke Jakarta?"

"parah! libur sebulan gak cukup apa?"

 

semua sms itu ku balas dengan sms yang sama; "sabar, ya. sebentar lagi gue balik kok."

hahaha, kata-kata bohong yang manis. entah sejak kapan aku belajar membual dengan kata manis. sejak sering diperlakukan begitu mungkin. aku tidak boleh begitu seharusnya.

 

tapi harus bagaimana? aku tidak mau pulang ke Jakarta. tunggu. pulang? Jakarta? jakarta bukan rumahku, kenapa harus pulang kesana? aku hanya singgah di sana dalam waktu yang lama. agar ibu dan ayahku yang menunggu di rumah, bisa sedikit berbangga akan aku. walaupun aku tau, jikapun aku tidak jadi siapa-siapa, mereka tetap bangga padaku.

 

aku bilang pada teman-teman, akan segera pulang. padahal, aku bahkan belum beli tiket pesawat. dan masih sibuk dengan kucing peliharaan ibuku di rumah. masih sibuk bercerita kepada ayah tentang rencana-rencanaku. aih, rencana yang rumit itu. pasti ayah tidak mengerti. tapi ayahku terlihat bangga, "anakku sudah bisa berencana," pikir beliau. masih sibuk memakan segala masakan ibu. masih sibuk bercanda-canda dengan kakak dan abang.

 

aihhh, kenapa harus pergi?

aku tidak mau pergi.

tapi, tampaknya jalan untuk membahagiakan ayah dan ibu,adalah perjalanan ke Jakarta. mengejar semua obsesi dan pulang membawa hasil, lalu pergi lagi. mungkin jika jauh, aku lebih megnerti arti "rumah".

baiklah aku akan pergi. tapi setelah ku habiskan mi kuah bikinan ibuku ini.

iya, Jakarta. kau puas? aku akan kembali!

September 18, 2009

Surat Untuk Tuhan

Satu hari lagi, orang-orang akan berteriak memanggil MU. entah hati mereka ikut menyambangiMU atau tidak. aku tidak tau.

yang aku tau, KAU bakalan sangat sibuk mendengar mereka, manusia dengan segala minta.

oke, jadi, ku putuskan untuk meminta kepada MU, sebelum mereka berisik memanggilMU.

tahun ini hidupku terasa suck, Tuhan.

banyak luka di sini sana.

tapi saat luka itu berakhir, berjuta terima kasih ingin ku sembahkan pada MU.

dengan luka, KAU buat hidupku sangat indah, Tuhan.

sebelum bisa berjalan sudah sepantasnya seorang bayi jatuh berkal-kali dan menangis.

aku cinta Kau Tuhan!

 

 

Tuhan,

boleh minta sesuatu

sebagai hadiah lebaran?

 

aku ingin dapat sebuah penawar, seperti yang kau beri dua tahun lalu.

Jujur saja, Tuhan.

Adam yang satu itu

ciptaanmu yang satu itu

selalu berhasil bikin aku lemah

bikin aku kangen

 

boleh aku minta dia kembali, Tuhan?

Boleh?

Boleh aku minta dia kembali tanpa diganti?

Boleh?

 

 

Tuhan,

Jika boleh meminta lagi,

tolonglah, Tuhan.

panjangkan umur dia yang ku sebut ibu

dan dia yang ku panggil ayah

agar bisa mereka bahagia dengan keringatku

setelah jutaan jerih payah.

 

Oke, Tuhan?

Kau paling jago masalah kabul-mengabulkan.

Ya, kan?

Jadi tolong kabulkan….

Oke?

TUHAN?

 

 

 

(menjelang lebaran)

September 9, 2009

SE

Sum

      pah

Te

      lah

Tum

     pah

Se

Ra

    pah!

 

Tinggal

     lah

 

 

se   pi    ring

se   pi

se!

 

sial, pedih ini membuatku terdiam…

September 2, 2009

Pelacur Ini Menunggumu

Denyar capek menghadapi rasa ini. Denyar sudah pergi jauh-jauh dari dia, tapi rindu di hati Denyar selalu buat dia. Kami sudah berpisah ribuan kilometer, tapi tiap menjelang tidur, dia adalah hal terakhir yang dengan ingat. dan ketika bangun, denyar segera ngeliat hape buat nge-cek, apakah ada sms dari dia buat denyar. saat denyar tau gak ada sms dari dia, hati denyar rasanya kosong. habis, tumpah, hampa. Denyar bahkan bisa ngerasain sesuatu. ada semacam firasat, kalo dia sedang tidak baik-baik saja. Denyar gak bisa berhenti mengkhawatirkan dia yang labil itu. padahal, gak tersisa sedikitpun rasa peduli dia untuk Denyar.
 
saat nulis postingan ini pun, Denyar dengerin lagu kesukaan kita berdua dulu. masih terngiang-ngiang di telinga denyar. Lalu secara otomatis, hanya puisi yang bisa denyar tulisan
 
"SEBUAH KATA"
 
Rindu yang menyeret tanganku
Untuk menggarap sajak ini
Dimana namamu
Masih membabi buta
Terselip di antara baitnya
Menyisip di antara hurufnya
 
Rindu yang memaksaku
Menulis sajak ini
Ketika sebuah kata
Merangkak dari dasar dada
Memanjat kerongkongan
Dan terhenti di sana
 
sebuah kata yang entah bagaimana bunyinya
sebuah kata yang entah bagaimana cara membacanya
tersangkut di kerongkongan
membusuk di sana
 
padahal sudah ku cambuk mulutku 
agar bisa ucapkannya
tapi, malah air dari mata yang mengalir
 
kau bilang
yang paling sakit adalah sepi
sini! cicipi lidahku
rasanya lebih brengsek dari sepi yang kau bilang itu!
 
tapi sebuah kata
yang entah bagaimana membacanya
yang entah bagaimana mengucapkannya
yang entah bagaimana mengertikannya
tersangkut di kerongkongan
 
padahal, kata itu
adalah wakil yang jelas
dari seribu sajakku untuk mu!
 
 
 
 
 
Pelacur Ini Menunggumu
 
 
aku ini seorang pelacur
yang menolak tawaran bajingan-bajingan berlemak rupiah
hanya mau, kau saja
 
menunggumu sambil memakai topeng dungu
menunggumu memberi selendang ungu
untukku, pelacurmu
 
aku tahu hari ini kau tak akan pulang
tapi aku merasa harus menunggumu
aku tahu hari ini kau tak akan pulang
tapi aku merasa wajib menunggumu
 
karena menunggumu
membuat aku merasa bukan
pelacur
 
menunggumu bagai perasaan terhormat
seorang istri
menunggu suami sah-nya
pulang ngantor…
 
mencium punggung tangannya
mencium erat bibirnya
Menghidangkan secangkir teh hangat
membuka sepatunya
dan akhirnya membuka kancing bajunya
 
menunggumu
membuat aku
merasa bukan pelacur
 
menunggumu bagai rasa tak sabar yang bahagia
seorang anak
yang menunggu
bapak sah-nya
pulang ngantor
 
mencium punggung tangannya
memeluk bahu kekarnya
mencium pipinya
dan cengengesan 
setelah diberi pistol-pistolan
lima ribuan
 
menunggumu
mung
kin
ada
lah
satu
sa
tu
nya 
kebahagiaan
da
lam
hidupku
sebagai
PE
LA
CUR!

August 26, 2009

PULANG

Denyar kembali pada tempatnya dibesarkan.

Gak banyak yang tau bahwa denyar baru saja sembuh dari luka. Bahkan gue sendiri, gak tau tentang hal itu. karena gue masih merasa ada darah mengalir deras dari sesuatu yang bocor di bagian tubuhku. entah apa. tapi gue memutuskan untuk menyandang gelar sebagai ornag yang sudah sembuh dari luka.

karena kasihan ibu, dia tak pernah ingin anaknya terluka seperti itu.

karena kasihan ayah, pikirannya sudah cukup susah.

Pulang.

Dengan luka yang dibawa-bawa untuk minta disembuhkan entah pada siapa.

berharap ibu sering-sering mengusap pipiku

walau tak ada air mata di sana

berharap ibu sering-sering mengusap pundakku

walau tak ada beban nyata di sana

minta dimanja-manja saja.

ya, denyar pulang untuk dimanja.

August 17, 2009

Kalau Kau Memang Merdeka!

(sebuah renungan di hari Kemerdekaan)

 

Kalau Kau Memang Merdeka

 

Kalau kau memang merdeka

Berteriaklah

"SALAH!"

jika kau tahu orang itu salah

tak peduli dia kacung atau rajamu!

 

Kalau memang kau merdeka 

Berkaryalah!

Ikuti nuranimu

Tanpa takut kau kekurangan uang

Tanpa takut kau dikucilkan orang

 

Kalau kau memang merdeka

Berontaklah!

Bilang bahwa kau tidak mau dibodoh-bodohi

Tidak mau dilacurkan badut-badut sialan

Tidak mau jadi persembahan di kuil-kuil setan!

 

Kalau memang kau merdeka

Belajarlah!

Sadarkan dirimu bahwa jiwamu kering tanpa pengetahuan

Bahwa kau tidak boleh dipenjara ketidaktahuan

Tidak boleh dijajah kebodohan

 

Kalau memang kau merdeka

Sadarlah…

yang kau makan itu adalah lemak-lemak

Yang seharusnya membalut tulang-tulang 

Anak busung lapar…

 

Kalau memang kau merdeka

Mundurlah!

Dari rapat-rapat mewah

Atas nama rakyat-rakyat jelata

Tapi uangnya masuk ke kopermu!

 

Kalau memang kau merdeka

Jujurlah!

Jangan beri kami harapan indah lima belas tahun mendatang

Hari ini saja anak-anak kamu mati dimakan binatang!

Hari ini saja kerongkongan mereka tak dilewati apa-apa

 

Kalau kau memang merdeka

Tamparlah!

Siapa saja yang menodai Dwi Warna

Dengan lambang-lambang se-enak dengkulnya!

Tamparlah walau itu pipimu sendiri

 

Kalau memang kau merdeka

Menangislah!

Dan tanya apakah pernah bangsa ini merdeka

Pahamkah rakyat ini akan artinya merdeka?

Pernahkah kau mendapati dirimu dengan keadaan merdeka?

 

Kalau memang kau merdeka

Mundurlah!

Dari pesta-pesta memuja berhala hedonisme!

Dari racun-racun yang kau sisip ke tubuhmu!

Dari moral-moral yang membuatmu seperti orang tolol!

 

Kalau kau memang merdeka

Berbahagialah

Tertawa, walaupun satire atau ironi

Dan dunia ini bukan hanya soal cinta pada kelamin saja!

 

Kalau memang kau merdeka

Merangkaklah!

Walaupun kaki telah patah

dan Dunia menyuruhmu berhenti melangkah

Merangkaklah dan kau menang!

 

Kalau kau merdeka!

Kalau kau memang merdeka!

Sadari puisi ini

Dengan kuping memerah tanpa amarah

Dan jika kau marah

 

Tanya dirimu

Merdeka kah daku?

August 12, 2009

Testimoni Denyar Tentang Penangkapan Teroris Itu.

Awalnya Denyar mau nge-post cerpen Denyar. Cuma, setelah Denyar liat-liat lagi, cerpen Denyar masih banyak kekurangannya. Ntar kalo Denyar udah edit dan Denyar pede sama hasilnya, cerpen itu akan muncul di sini. Tapi sekarang gue mau membicarakan topik yang sedang disantap masyarakat dalam keadaan hangat. Walaupun gak semua yang hangat-hangat itu baik untuk kita. Yup, denyar mo ikutan komentar tentang yang kemaren ribut-ribut di Temanggung itu loh. Tentu temen2 udah pada tau dan udah punya komen sendiri di benak masing-masing. Dan denyar memutuskan untuk mengungkapkan pendapat denyar dalam bentuk puisi. haaaah, lagi-lagi, Denyar minta kritikan dan saran kalian atas puisi2 denyar. habis, Denyar sudah jatuh cinta pada puisi, tapi masih bnayak kekurangan dlm menulis. Yang jelas, Denyar sangat bersenang-senang membuat karya ini. karena kebetulan, Denyar senang menulis dan menonton.

Oke, jgn banyak basi-basi, malu sama pemerintah (loh? atau pemerintah yang justru harus malu?)heehee… enjoy guys!


"FILM I"

 

Pak, dengan lima belas ribu perak

Kami bisa tonton film

Tentang kondisi pendidikan bangsa ini

Ditambah keahlian berkesenian

Dan murninya nurani berkarya

Film itu bisa menghipnotis sejumlah rakyat

untuk lebih tegar dalam menghadapi hidupnya

Dan lebih kuat untuk cita-citanya

Sineas negeri ini sudah maju, Pak

mereka dapat banyak penghargaan dari festival film internasional

 

 

Jadi, tak usahlah repot-repot bikin film amatiran macam itu

Tentang penangkapan satu teroris selama puluhan jam

Dengan puluhan personil penembak jitu

baku tembak yang terdengar seperti bunyi petasan anak-anak bandel di bulan Ramadhan

Sudah tersebar pula di media internasional

Jadi tontonan kami siang-malam

Atau perlu kita panggil Joko Anwar, Riri Riza, Tim Buton

atau Spielberg sekalian?

Biar lebih dramatis

Biar tepuk tangan penonton lebih banyak Senin, 10 Agustus 2009

08.59 

 

 

"FILM II"

Atau begini sajalah!

Kita bikin film yang lebih heroik!

Saya tak berkeberatan untuk jadi penulis skenarionya

Berimajinasi memang hobi saya

 

 Begini skenarionya,

Sekelompok teroris, entah bagaimana caranya, entah bagaimana pengamanannya, menyusupkan bom

ke mobil iring-iringan presiden di Hari Kemerdekaan

Tapi, aparat yang mahahebat punya firasat bahwa di sana ada sang keparat

 

Presiden diamankan!

Dengan sedikit pertempuran, tembak menembak, kalau bisa 3 hari 3 malam

Ada aparat yang terluka, tapi tidak parah

Kan untuk efek dramatis saja.

 

Yang mati tetap terorisnya

Dan bom-bom mereka yang tersita bisa dijinakkan

Presiden sambil menahan tangis

Mengucapkan terima kasih dengan suara bergetar

 

Lalu 17 Agustus, berubah jadi pesta 7 hari 7 malam

Panjat pinang berhadiah mobil

Balap karung jadi balap F1

Semua gembira!

——Black fade in——

——Credit titlle THE END———

 

 

Terlalu berlebihan?

Eh, terus kenapa?

semua orang toh tau

Ini kan cuma film!

 

Cuma imajinasi saya

Cuma penghibur semata

Cuma tipu-tipuan

Cuma dagelan!

 

 

 Senin, 10 Agustus 2009

 11.38

FILM III

 

"Kok bukan Noordin?"

"Katanya Noordin?"

"Walah, malu kita! sudah pestapora, salah orang pula!"

"Saya kok belum bisa ngerti ya? jadi ribut-ribut kemaren itu apa?"

Ku dengar keresahan berlompatan di warung depan

"Dari kemaren saya sudah bilang, jangan terlalu bahagia

Enggak semua film itu berdasarkan kisah nyata!

sahut sebuah suara dari mulut saya.

seketika kebahagiaan nonton film aksi itu sirna

Takut mulai lagi terasa.

 

 Hari ini jam sembilan pagi

 

"FILM IV"

 

DICARI!

apa? siapa? teroris mana?

BUKAN!!

loh?


DICARI!

Penulis skenario penuh imaji

Untuk bikin film aksi

Lagi! 

Jakarta, 12 Agustus 2009

09.30